Anakku tidak tumbuh di jalan yang lurus. Langkahnya sering melenceng, berbelok tiba-tiba, lalu berhenti di tengah jalan seolah lupa ke mana ia hendak pergi. Dunia baginya terlalu ramai, terlalu cepat, terlalu penuh suara yang saling berebut masuk ke kepalanya. Aku berjalan di belakangnya. Kadang di samping. Kadang membiarkannya berjalan sendiri. Aku ibu yang belajar sambil berjalan, belajar menahan napas, belajar tidak marah, belajar mengulang kata yang sama berkali-kali tanpa kehilangan cinta di dalamnya. Ada hari-hari ketika kami sama-sama berhenti. Di ruang belajar yang sunyi, di kertas yang tak kunjung selesai, di mata kecil yang tiba-tiba basah tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Tangannya mengepal, bahunya turun, seolah seluruh dunia terlalu berat untuk tubuhnya yang masih kanak-kanak. “Lelah” katanya. Dan aku tahu, ia benar-benar lelah. Aku pun lelah. Lelah menjelaskan pada dunia bahwa anakku bukan kurang, hanya berbeda. Lelah menahan luka dari tatapan ya...