Ada masa ketika aku tahu persis ke mana hendak melangkah. Aku punya banyak mimpi, menyimpan begitu banyak rencana, dan percaya bahwa selama aku mau berusaha, selalu ada jalan untuk sampai ke sana. Dunia terasa seperti ruang luas yang penuh kemungkinan. Ada banyak hal yang ingin kucoba, banyak tempat yang ingin kutuju, dan banyak versi diriku yang ingin kutemui. Lalu, entah sejak kapan, semuanya mulai terasa berbeda. Mimpi-mimpi itu masih ada, tersimpan di suatu tempat dalam kepalaku. Hanya saja, aku tak lagi tahu harus memulainya dari mana. Beberapa masih ingin kuperjuangkan, beberapa mulai kuragukan, dan beberapa lainnya perlahan terasa asing. Aku seperti sedang mengurai benang-benang kusut dari mimpi yang pernah kurajut sendiri, mencoba memahami mana yang benar-benar kuinginkan dan mana yang sekadar kuambil karena dunia mengatakan bahwa itulah yang seharusnya kuinginkan. Di usia 29 tahun, aku sedang berada di antara keduanya: mengurai mimpi-mimpi lama dan mencoba merajut mimpi yang b...
Aku tidak pernah benar-benar merasa pantas berdiri di depan kelas. Ada pagi-pagi ketika aku berhenti sejenak di depan pintu ruang kelas. Menarik napas perlahan, lalu bertanya dalam hati, "Apa hari ini aku cukup untuk mereka?" Aku bukan dosen yang lahir dengan keyakinan sebesar langit. Aku datang membawa banyak tanda tanya. Tentang materi yang mungkin belum kusampaikan sebaik mungkin. Tentang jawaban yang kadang masih harus kucari lagi setelah kelas selesai. Tentang diriku sendiri, yang ternyata masih sama seringnya belajar seperti mereka. Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah melihat mahasiswa hanya sebagai orang yang harus mendapat nilai. Aku melihat mereka sebagai manusia yang sedang bertumbuh. Ada yang datang dengan mimpi besar. Ada yang datang dengan mata sembab karena semalam belum sempat tidur. Ada yang diam sepanjang kelas, bukan karena tidak peduli, melainkan karena hidup sedang terlalu bising di luar kampus. Aku tidak pernah tahu cerita lengkap mereka. Karena itu,...