Ayah bukan lelaki yang banyak bicara. Ia tidak pernah menasihati dengan panjang lebar atau menggurui seperti tokoh-tokoh bijak dalam buku. Kata-katanya pendek, bahkan seringkali tak masuk akal bagiku saat kecil. Tapi setiap kalimat yang keluar dari bibirnya seolah menyimpan petuah yang tak bisa kuabaikan.
Salah satunya dan mungkin yang paling sering ia ucapkan adalah,
“Jadilah seperti pohon anggur. Ia harus dipatahkan berkali-kali agar bisa tumbuh, bertambah subur.. Tetap kuat. Tetap berdiri.”
Aku tidak tahu apa maksudnya waktu itu. Aku hanya tahu ia mengatakannya setiap kali aku menangis karena sesuatu yang remeh: nilai jelek, lutut lecet, atau burung kesayanganku mati.
Ia akan berjongkok di sampingku, tangannya yang hangat menyentuh pundakku, dan dengan suara lembut ia mengatakan kalimat itu lagi, seolah menanamnya dalam diriku dengan sabar, berulang-ulang, seperti orang menanam benih di tanah yang keras.
Ayah mencintai tanah. Setiap sore, ia pergi ke kebun kecil di belakang rumah, menyiram, memangkas, dan menatap pohon anggur yang ditanamnya sendiri. Ia bilang, “Anggur itu keras kepala. Ia tidak tahu caranya berhenti tumbuh, bahkan saat patah.”
Aku tidak mengerti. Aku hanya melihat daun-daunnya yang hijau dan sulurnya yang menjalar pelan di dinding bata.
Saat itu aku belum tahu, bahwa kelak, kalimat sederhana itu akan menjadi satu-satunya warisan yang bisa kupegang saat dunia mulai terasa sunyi.
Sampai ketika.. Ayah meninggal saat aku baru beranjak remaja. Umurku memang sudah cukup untuk mengerti apa yang sedang terjadi, tapi bukan berarti cukup untuk tahu bahwa kepergiannya adalah awal dari sesuatu yang tidak akan pernah sama lagi.
Hari itu langit berwarna gelap, seolah menggambarkan suasana hatiku. Orang-orang datang membawa doa, Ibu menangis tanpa suara, dan aku hanya berdiri di pojok ruangan, menatap tubuh ayahku yang terbujur diam. Ada sesuatu yang hilang dari udara. Mungkin kehangatan, mungkin keberanian, mungkin juga arah pulang.
Setelah hari itu, rumah terasa seperti cangkang kosong. Tak ada lagi suara cangkul yang beradu dengan tanah, tak ada lagi aroma daun basah di sore hari. Pohon anggur di belakang rumah dibiarkan begitu saja, merambat liar, sebagian batangnya patah tertimpa hujan, sebagian mengering karena lupa disiram.
Aku remaja yang belajar menjadi dewasa tanpa tuntunan Ayah. Dunia berjalan terlalu cepat, dan aku terlalu sering tersandung. Saat kuliah, aku hidup menumpang pada impian yang rapuh dan tabungan kecil peninggalan Ayah. Setiap kali aku gagal, dan itu sering terjadi. Aku hanya bisa diam lama, memandangi langit kosong. Kadang aku bertanya dalam hati sambil mengingat pesan ayah, apa gunanya menjadi seperti pohon anggur, kalau setiap luka selalu membuatku semakin rapuh?
Namun entah bagaimana, setiap kali aku hampir menyerah, suaranya selalu datang kembali. Tidak keras, tidak menggelegar. Hanya lembut, tapi cukup untuk mengguncang sesuatu di dalam dada.
“Ia harus dipatahkan berkali-kali agar bisa tumbuh, bertambah subur...”
Dan aku menulis ulang kalimat itu di setiap halaman buku catatan, di pinggir kertas ujian, di ujung surat lamaran kerja yang tak pernah berbalas, di setiap buku yang mengandung bucket list hidup ku, seolah menulisnya bisa membuatku bertahan sedikit lebih lama.
Suatu hari, bertahun-tahun setelah kepergian Ayah, aku menangis hebat. Mungkin aku lelah. Kehidupan dewasa membuatku kering. Semua terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Aku berdiam mengamati pergerakan dunia dengan hati yang penuh retak.
Halaman belakang rumah orang tuaku masih sama seperti dulu, hanya lebih sunyi. Pohon anggur itu masih ada, tapi seperti tubuh tua yang letih: batangnya menghitam, daun-daunnya jarang, beberapa sulurnya menjuntai tanpa arah. Aku berjongkok di hadapannya, menyentuh batang kering itu dengan ujung jariku. Tanah di sekitarnya retak, keras, tapi dari salah satu celah kecil di antara akar yang pecah, muncul tunas hijau mungil yang tampak rapuh, tapi... “Ia hidup!”
Entah kenapa air mataku menetes. Kupikir pohon itu sudah mati. Tapi ternyata tidak. Ia bertahan, diam-diam, di bawah permukaan. Akar-akarnya bekerja dalam sunyi, tak terlihat siapa pun.
Dan tiba-tiba, aku merasa malu. Aku yang punya tangan, punya doa, punya kata, justru lebih mudah menyerah dari pohon ini.
Aku duduk lama di sana, membiarkan matahari sore menyentuh wajahku. Di antara desir angin dan bau tanah, aku bisa mendengar gema masa lalu yang samar: suara Ayah, napasnya yang berat, dan kalimat yang pernah kuhafal tapi belum benar-benar kumengerti.
“Kalau batangnya tumbuh tanpa arah, harus dipotong. Bukan untuk menyakiti. Tapi supaya ia tahu ke mana harus tumbuh.”
Aku menangis lama sekali sore itu. Tidak karena sedih, tapi karena akhirnya paham. Ayah memang tidak menemaniku sampai dewasa, tapi ia sudah menyiapkan semua yang kubutuhkan untuk bertahan. Ia tidak meninggalkan banyak harta, tapi ia menanam akar di dalam diriku, akar itu.. akar yang membuatku tetap berdiri bahkan ketika dunia berusaha mematahkan.
Keesokan paginya, aku membersihkan kebun itu. Gunting tua peninggalan Ayah kutemukan di gudang, berkarat tapi masih bisa kugenggam dengan utuh. Aku memangkas batang-batang kering, menata sulur-sulur baru, menyiram tanah dengan air yang kubawa dari sumur. Aku tidak sedang menanam ulang anggur itu. Aku sedang menanam kembali diriku sendiri.
Hari-hari berikutnya, aku belajar hidup dari tanah. Dari setiap luka yang tertinggal di batangnya, tumbuh daun baru. Dari setiap potongan yang kupangkas, muncul kehidupan kecil yang hijau.
Aku menyadari bahwa mungkin begitulah cara Tuhan mengajarkan kekuatan: bukan dengan menjauhkan kita dari rasa sakit, tapi dengan menumbuhkan sesuatu dari luka itu.
Musim berganti. Anggur itu berbuah kembali. Tidak sebanyak dulu, tapi cukup untuk membuat halaman belakang tampak hidup. Aku memetik satu, mencicipinya. Rasanya manis. Tapi di ujung lidah, ada sedikit getir. Dan aku tahu, begitulah hidup. Campuran antara kehilangan dan ketabahan, antara pahit dan manis yang saling melengkapi.
Kini, setiap kali aku merasa terjatuh, aku kembali ke kebun ini. Aku duduk di bawah pohon anggur itu, mendengar suara angin yang menelusuri daunnya. Di antara gemerisik itu, aku seperti mendengar suara Ayah lagi. Tidak lagi sebagai pesan, tapi sebagai kehadiran yang lembut seolah ia tidak pernah benar-benar pergi.
Ayah mungkin telah lama tiada, tapi aku adalah warisannya. Aku adalah akar yang tumbuh dari lukanya, kalimat terakhir yang belum sempat ia tulis.
Dan selama aku masih tumbuh, aku tahu: ia masih hidup di dalam diriku, seperti pohon anggur yang terus berpegangan pada dinding waktu, tak peduli seberapa sering dunia berusaha mematahkannya.
Komentar
Posting Komentar