Anakku tidak tumbuh di jalan yang lurus.
Langkahnya sering melenceng, berbelok tiba-tiba, lalu berhenti di tengah jalan seolah lupa ke mana ia hendak pergi.
Dunia baginya terlalu ramai, terlalu cepat, terlalu penuh suara yang saling berebut masuk ke kepalanya.
Aku berjalan di belakangnya. Kadang di samping. Kadang membiarkannya berjalan sendiri.
Aku ibu yang belajar sambil berjalan, belajar menahan napas, belajar tidak marah, belajar mengulang kata yang sama berkali-kali tanpa kehilangan cinta di dalamnya.
Ada hari-hari ketika kami sama-sama berhenti.
Di ruang belajar yang sunyi, di kertas yang tak kunjung selesai, di mata kecil yang tiba-tiba basah tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Tangannya mengepal, bahunya turun, seolah seluruh dunia terlalu berat untuk tubuhnya yang masih kanak-kanak.
“Lelah” katanya.
Dan aku tahu, ia benar-benar lelah.
Aku pun lelah.
Lelah menjelaskan pada dunia bahwa anakku bukan kurang, hanya berbeda.
Lelah menahan luka dari tatapan yang kelelahan.
Lelah berpura-pura kuat, lalu runtuh saat sendirian.
Ada masa aku terhenti lama.
Duduk di lantai, memeluk keheningan, bertanya pada Tuhan dengan suara yang hampir tidak terdengar: mengapa jalannya harus seberat ini?
Tapi setiap kali aku hampir menyerah, anakku menoleh.
Dengan mata yang lelah, tapi masih menyimpan cahaya.
Aku bangkit lagi. Selalu begitu.
Kugenggam tangannya, dan dengan suara yang kupinjam dari imanku sendiri, aku berkata:
“Nak, selama Allah bersama kita, dunia akan baik-baik saja.”
Ia mengangguk. Entah paham, entah sekadar percaya.
Anakku sering patah.
Frustrasi membuatnya diam, lalu meledak, lalu menangis.
Tapi seperti sesuatu yang tumbuh dari akar yang keras, ia selalu kembali mencoba. Pelan. Ragu. Namun jujur.
Suatu hari, setelah lelah yang panjang, ia menatapku dan bertanya,
“Ummi… benar kan Zaid mampu?”
Pertanyaan itu seperti doa yang belum selesai.
Aku tidak menjawab dengan janji-janji besar. Aku hanya memeluknya, lama, dan berkata:
“Iya. Kamu mampu. Bahkan saat kamu merasa tidak.”
Waktu berjalan seperti air yang sabar.
Dan pada suatu hari yang tidak kami rayakan berlebihan, anakku berdiri di depan kelas. Tangannya gemetar, wajahnya kikuk. Di tangannya, sebuah piala kecil.. juara kelas. Di terima rapor pertamanya, kelas 1 SD.
Aku melihatnya dari jauh.
Bukan sebagai kemenangan, tapi sebagai kesaksian.
Bahwa anak yang sering terhenti itu ternyata tidak pernah berhenti sepenuhnya.
Bahwa setiap jatuhnya adalah cara lain untuk belajar bangkit.
Bahwa jalan yang berliku bukan berarti salah, hanya lebih panjang.
Ia berlari ke arahku. Memelukku erat.
Dan dengan suara yang lebih yakin dari sebelumnya, aku mengulang kembali satu kalimat yang sejak awal menjadi pegangan kami:
Selama Allah bersama kami, patah tidak akan mematikan.
Selama Allah bersama kami, anak yang Tuhan amanahkan pada kami ini, dengan seluruh ribut dan cahayanya akan tumbuh.
Seperti pohon yang tidak lurus,
tapi akarnya tahu ke mana harus bertahan.
Komentar
Posting Komentar