Langsung ke konten utama

Piala Pertama Anakku..

Anakku tidak tumbuh di jalan yang lurus.

Langkahnya sering melenceng, berbelok tiba-tiba, lalu berhenti di tengah jalan seolah lupa ke mana ia hendak pergi. 

Dunia baginya terlalu ramai, terlalu cepat, terlalu penuh suara yang saling berebut masuk ke kepalanya.

Aku berjalan di belakangnya. Kadang di samping. Kadang membiarkannya berjalan sendiri.
Aku ibu yang belajar sambil berjalan, belajar menahan napas, belajar tidak marah, belajar mengulang kata yang sama berkali-kali tanpa kehilangan cinta di dalamnya.

Ada hari-hari ketika kami sama-sama berhenti.
Di ruang belajar yang sunyi, di kertas yang tak kunjung selesai, di mata kecil yang tiba-tiba basah tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Tangannya mengepal, bahunya turun, seolah seluruh dunia terlalu berat untuk tubuhnya yang masih kanak-kanak.

“Lelah” katanya.
Dan aku tahu, ia benar-benar lelah.

Aku pun lelah.
Lelah menjelaskan pada dunia bahwa anakku bukan kurang, hanya berbeda.
Lelah menahan luka dari tatapan yang kelelahan.
Lelah berpura-pura kuat, lalu runtuh saat sendirian.

Ada masa aku terhenti lama.
Duduk di lantai, memeluk keheningan, bertanya pada Tuhan dengan suara yang hampir tidak terdengar: mengapa jalannya harus seberat ini?

Tapi setiap kali aku hampir menyerah, anakku menoleh.
Dengan mata yang lelah, tapi masih menyimpan cahaya.

Aku bangkit lagi. Selalu begitu.
Kugenggam tangannya, dan dengan suara yang kupinjam dari imanku sendiri, aku berkata:

“Nak, selama Allah bersama kita, dunia akan baik-baik saja.”

Ia mengangguk. Entah paham, entah sekadar percaya.

Anakku sering patah.
Frustrasi membuatnya diam, lalu meledak, lalu menangis.
Tapi seperti sesuatu yang tumbuh dari akar yang keras, ia selalu kembali mencoba. Pelan. Ragu. Namun jujur.

Suatu hari, setelah lelah yang panjang, ia menatapku dan bertanya,

“Ummi… benar kan Zaid mampu?”

Pertanyaan itu seperti doa yang belum selesai.
Aku tidak menjawab dengan janji-janji besar. Aku hanya memeluknya, lama, dan berkata:

“Iya. Kamu mampu. Bahkan saat kamu merasa tidak.”

Waktu berjalan seperti air yang sabar.
Dan pada suatu hari yang tidak kami rayakan berlebihan, anakku berdiri di depan kelas. Tangannya gemetar, wajahnya kikuk. Di tangannya, sebuah piala kecil.. juara kelas. Di terima rapor pertamanya, kelas 1 SD.

Aku melihatnya dari jauh.
Bukan sebagai kemenangan, tapi sebagai kesaksian.

Bahwa anak yang sering terhenti itu ternyata tidak pernah berhenti sepenuhnya.
Bahwa setiap jatuhnya adalah cara lain untuk belajar bangkit.
Bahwa jalan yang berliku bukan berarti salah, hanya lebih panjang.

Ia berlari ke arahku. Memelukku erat.
Dan dengan suara yang lebih yakin dari sebelumnya, aku mengulang kembali satu kalimat yang sejak awal menjadi pegangan kami:

Selama Allah bersama kami, patah tidak akan mematikan.
Selama Allah bersama kami, anak yang Tuhan amanahkan pada kami ini, dengan seluruh ribut dan cahayanya akan tumbuh.

Seperti pohon yang tidak lurus,
tapi akarnya tahu ke mana harus bertahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu Ini Tak Pernah Selesai

"Ayah Memang Jauh, Tapi...." Masa kecilku bukanlah masa kecil yang biasa. Aku tidak tumbuh bersama ayah di rumah seperti anak-anak lain. Ayah bekerja di kota yang jauh, di tempat yang menurutnya tidak cukup baik untuk pendidikan anak. Aku hanya bisa berbincang dengan ayah melalui telepon atau MMS - aplikasi pesan yang dapat mengirimkan gambar, mendengarnya dari cerita ibu yang menceritakan tentang kesehariannya. Kami, ibu dan aku, tinggal di rumah kecil di sebuah daerah, yang terpisah sejauh 254km dengan tempat ayah berada, tempat yang penuh dengan kerja keras dan usaha, tetapi menurutnya tidak cocok untuk membesarkan anak. Aku ingat betul, setiap kali ada libur sekolah atau saat aku merasa sangat rindu padanya, aku akan menunggu telepon dari ayah. Itu adalah saat-saat yang paling aku nantikan. Ayah akan bercerita tentang pekerjaannya yang menakjubkan, dan tidak pernah lupa mengingatkanku untuk belajar dengan rajin. "Ayah ingin kamu jadi orang yang sukses, yang tahu baga...

MCU Gratis di Hari Ulang Tahun, Kok Bisa? Ini Pengalamanku!

Ulang tahun biasanya identik dengan kejutan, kado, dan perayaan kecil bersama keluarga atau teman. Tapi siapa sangka, tahun ini saya mendapat hadiah yang belum pernah didapat sebelumnya: Medical Check-Up (MCU) gratis dari pemerintah! Banyak dari kita mungkin jarang melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Entah karena kesibukan, merasa masih sehat, atau khawatir dengan biayanya. Padahal, Medical Check-Up (MCU) sangat penting untuk mendeteksi dini kondisi kesehatan sebelum menjadi masalah serius. Nah, menariknya, kali ini pemerintah melalui puskesmas maupun rumah sakit pemerintah dalam rangka kampanye kesehatan nasional memfasilitasi masyarakat untuk MCU gratis, alias nol biaya. Beritanya dapat diakses di sini .**  **Untuk memastikan apakah program ini tersedia di daerahmu,  coba cek ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.  Biasanya, informasi ini juga diumumkan melalui media sosial dinas kesehatan setempat. Berhubung saya berulang tahun di bulan Januari...

Disiplin, Kebersamaan, Cinta (Lokasi) Lingkungan, Hati-hati Terjebak!

Hi, glasses-B ! Untuk pembaca baru, Bela ucapkan selamat datang dan semoga tulisan di blog ini memberi manfaat. Pada kesempatan kali ini, Bela akan bahas tentang semboyan yang selalu diagung-dan-digaungkan di sebuah kampus di Rumbai, Pekanbaru -  Politeknik Caltex Riau  (PCR) "Disipilin, Kebersamaan, Cinta  Lokasi   Lingkungan" Sumber: google.com Teman-teman mahasiswa, alumni, atau bahkan staf PCR pasti udah sering dengar semboyan super ini. Semboyan yang tidak bosan-bosannya disampaikan dalam setiap kesempatan, dan akan teman-teman dengar saat pertama kali menjadi mahasiswa baru (maba) di kampus ini, sampai seterusnya. Semboyan ini bukan untaian kata biasa, melainkan sudah menjadi citra PCR yang akan terus selalu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh civitas akademika PCR. Uniknya, banyak mahasiswa atau alumni yang kemudian seiring berjalannya waktu diplesetkan menjadi Disiplin, Kebersamaan, Cinta Lokasi . Plesetan ini bukan tanpa alasan, jika dilihat dari banyaknya ...