Langsung ke konten utama

Semoga Dunia Ramah pada Langkahmu

Aku tidak pernah benar-benar merasa pantas berdiri di depan kelas.

Ada pagi-pagi ketika aku berhenti sejenak di depan pintu ruang kelas. Menarik napas perlahan, lalu bertanya dalam hati,

"Apa hari ini aku cukup untuk mereka?"

Aku bukan dosen yang lahir dengan keyakinan sebesar langit.

Aku datang membawa banyak tanda tanya.

Tentang materi yang mungkin belum kusampaikan sebaik mungkin.

Tentang jawaban yang kadang masih harus kucari lagi setelah kelas selesai.

Tentang diriku sendiri, yang ternyata masih sama seringnya belajar seperti mereka.

Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah melihat mahasiswa hanya sebagai orang yang harus mendapat nilai.

Aku melihat mereka sebagai manusia yang sedang bertumbuh.

Ada yang datang dengan mimpi besar.

Ada yang datang dengan mata sembab karena semalam belum sempat tidur.

Ada yang diam sepanjang kelas, bukan karena tidak peduli, melainkan karena hidup sedang terlalu bising di luar kampus.

Aku tidak pernah tahu cerita lengkap mereka.

Karena itu, aku memilih untuk tidak buru-buru menghakimi.

Aku belajar menghargai setiap proses kecil yang mereka perjuangkan.

Sebab aku tahu, ada orang-orang yang kemenangan terbesarnya hari itu hanyalah berhasil datang ke kelas.

Ada yang baru berani mengangkat tangan setelah berkali-kali mengubur rasa takut.

Ada yang mengulang praktikum, menguji dan mengambil data praktikum untuk kesekian kalinya tanpa pernah benar-benar menyerah.

Dan bagiku...

itu sudah layak "dirayakan".

Aku selalu percaya, pendidikan tidak lahir dari kesempurnaan.

Ia tumbuh dari keberanian untuk terus mencoba.

Bukankah hidup juga demikian?

Kita gagal.

Lalu belajar lagi.

Kita jatuh.

Lalu berdiri lagi.

Dan di sela-sela semua proses itu, kita berharap... semoga masih ada seseorang yang percaya bahwa kita mampu.

Aku ingin menjadi seseorang itu.

Bukan orang yang selalu memberikan jawaban.

Melainkan seseorang yang tetap percaya kepada mahasiswanya, bahkan ketika mereka sedang kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Maka di akhir semester, sebelum nilai benar-benar kututup, ada hal kecil yang kulakukan.

Aku menulis untuk mereka.

Bukan tentang angka.

Bukan tentang indeks prestasi.

Melainkan tentang perjalanan yang telah kami lalui bersama.

Aku meninggalkan satu pesan.

"Dear Mahasiswa-ku, mudah atau sulit, terima kasih ya sudah bertahan dan berproses. Maaf atas kekurangan saya yang juga masih belajar untuk jadi lebih baik. Semoga kalian juga terus berproses, apa pun hasilnya semester ini. Semoga kalian bahagia bertemu saya semester ini. Entah nanti kita bertemu lagi di kelas lainnya atau tidak, saya selalu menunggu kabar-kabar baik dari kalian."

Aku terdiam beberapa saat.

Membayangkan mereka membacanya.

Mungkin ada yang hanya sekilas melihat.

Mungkin ada yang tersenyum.

Mungkin ada yang sedang membutuhkan satu kalimat itu lebih dari yang pernah kuketahui.

Aku berdoa dengan lirih,

"Ya Allah...

Jika ada satu saja dari mereka yang kembali berani bermimpi karena merasa pernah dipercaya...

Jika ada satu saja yang memilih bangkit lagi setelah merasa gagal...

Jika ada satu saja yang suatu hari mengetuk pintu dunia dengan ilmu yang pernah kutitipkan...

Maka cukupkanlah itu menjadi amal yang terus mengalir hingga aku tiada."

Aku sadar.

Suatu hari mereka akan melupakan rumus-rumus, teori, materi yang pernah kutulis.

Mereka mungkin juga akan lupa siapa nama dosen yang pernah mengajar mereka di semester tiga atau lima.

Tidak apa-apa.

Karena tidak semua pendidik yang ditakdirkan untuk selalu dikenang.

Ada yang hanya dititipkan waktu yang singkat untuk "menyalakan" sesuatu.

Dan bila kelak mereka berdiri di tempat-tempat yang bahkan belum pernah kubayangkan... aku hanya ingin percaya, barangkali ada sedikit ilmu yang mereka bawa dari ruang kelas yang pernah kami bagi bersama.

Semoga dunia ramah pada langkah mereka.

"Terima kasih sudah bertahan dan berproses."

Foto pemanis: Beberapa potret di penghujung semester.


Karena sesungguhnya,

itulah yang sedang kami lakukan bersama.

Berproses.

Untuk menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada hari kemarin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu Ini Tak Pernah Selesai

"Ayah Memang Jauh, Tapi...." Masa kecilku bukanlah masa kecil yang biasa. Aku tidak tumbuh bersama ayah di rumah seperti anak-anak lain. Ayah bekerja di kota yang jauh, di tempat yang menurutnya tidak cukup baik untuk pendidikan anak. Aku hanya bisa berbincang dengan ayah melalui telepon atau MMS - aplikasi pesan yang dapat mengirimkan gambar, mendengarnya dari cerita ibu yang menceritakan tentang kesehariannya. Kami, ibu dan aku, tinggal di rumah kecil di sebuah daerah, yang terpisah sejauh 254km dengan tempat ayah berada, tempat yang penuh dengan kerja keras dan usaha, tetapi menurutnya tidak cocok untuk membesarkan anak. Aku ingat betul, setiap kali ada libur sekolah atau saat aku merasa sangat rindu padanya, aku akan menunggu telepon dari ayah. Itu adalah saat-saat yang paling aku nantikan. Ayah akan bercerita tentang pekerjaannya yang menakjubkan, dan tidak pernah lupa mengingatkanku untuk belajar dengan rajin. "Ayah ingin kamu jadi orang yang sukses, yang tahu baga...

MCU Gratis di Hari Ulang Tahun, Kok Bisa? Ini Pengalamanku!

Ulang tahun biasanya identik dengan kejutan, kado, dan perayaan kecil bersama keluarga atau teman. Tapi siapa sangka, tahun ini saya mendapat hadiah yang belum pernah didapat sebelumnya: Medical Check-Up (MCU) gratis dari pemerintah! Banyak dari kita mungkin jarang melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Entah karena kesibukan, merasa masih sehat, atau khawatir dengan biayanya. Padahal, Medical Check-Up (MCU) sangat penting untuk mendeteksi dini kondisi kesehatan sebelum menjadi masalah serius. Nah, menariknya, kali ini pemerintah melalui puskesmas maupun rumah sakit pemerintah dalam rangka kampanye kesehatan nasional memfasilitasi masyarakat untuk MCU gratis, alias nol biaya. Beritanya dapat diakses di sini .**  **Untuk memastikan apakah program ini tersedia di daerahmu,  coba cek ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.  Biasanya, informasi ini juga diumumkan melalui media sosial dinas kesehatan setempat. Berhubung saya berulang tahun di bulan Januari...

Disiplin, Kebersamaan, Cinta (Lokasi) Lingkungan, Hati-hati Terjebak!

Hi, glasses-B ! Untuk pembaca baru, Bela ucapkan selamat datang dan semoga tulisan di blog ini memberi manfaat. Pada kesempatan kali ini, Bela akan bahas tentang semboyan yang selalu diagung-dan-digaungkan di sebuah kampus di Rumbai, Pekanbaru -  Politeknik Caltex Riau  (PCR) "Disipilin, Kebersamaan, Cinta  Lokasi   Lingkungan" Sumber: google.com Teman-teman mahasiswa, alumni, atau bahkan staf PCR pasti udah sering dengar semboyan super ini. Semboyan yang tidak bosan-bosannya disampaikan dalam setiap kesempatan, dan akan teman-teman dengar saat pertama kali menjadi mahasiswa baru (maba) di kampus ini, sampai seterusnya. Semboyan ini bukan untaian kata biasa, melainkan sudah menjadi citra PCR yang akan terus selalu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh civitas akademika PCR. Uniknya, banyak mahasiswa atau alumni yang kemudian seiring berjalannya waktu diplesetkan menjadi Disiplin, Kebersamaan, Cinta Lokasi . Plesetan ini bukan tanpa alasan, jika dilihat dari banyaknya ...