Aku tidak pernah benar-benar merasa pantas berdiri di depan kelas.
Ada pagi-pagi ketika aku berhenti sejenak di depan pintu ruang kelas. Menarik napas perlahan, lalu bertanya dalam hati,
"Apa hari ini aku cukup untuk mereka?"
Aku bukan dosen yang lahir dengan keyakinan sebesar langit.
Aku datang membawa banyak tanda tanya.
Tentang materi yang mungkin belum kusampaikan sebaik mungkin.
Tentang jawaban yang kadang masih harus kucari lagi setelah kelas selesai.
Tentang diriku sendiri, yang ternyata masih sama seringnya belajar seperti mereka.
Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah melihat mahasiswa hanya sebagai orang yang harus mendapat nilai.
Aku melihat mereka sebagai manusia yang sedang bertumbuh.
Ada yang datang dengan mimpi besar.
Ada yang datang dengan mata sembab karena semalam belum sempat tidur.
Ada yang diam sepanjang kelas, bukan karena tidak peduli, melainkan karena hidup sedang terlalu bising di luar kampus.
Aku tidak pernah tahu cerita lengkap mereka.
Karena itu, aku memilih untuk tidak buru-buru menghakimi.
Aku belajar menghargai setiap proses kecil yang mereka perjuangkan.
Sebab aku tahu, ada orang-orang yang kemenangan terbesarnya hari itu hanyalah berhasil datang ke kelas.
Ada yang baru berani mengangkat tangan setelah berkali-kali mengubur rasa takut.
Ada yang mengulang praktikum, menguji dan mengambil data praktikum untuk kesekian kalinya tanpa pernah benar-benar menyerah.
Dan bagiku...
itu sudah layak "dirayakan".
Aku selalu percaya, pendidikan tidak lahir dari kesempurnaan.
Ia tumbuh dari keberanian untuk terus mencoba.
Bukankah hidup juga demikian?
Kita gagal.
Lalu belajar lagi.
Kita jatuh.
Lalu berdiri lagi.
Dan di sela-sela semua proses itu, kita berharap... semoga masih ada seseorang yang percaya bahwa kita mampu.
Aku ingin menjadi seseorang itu.
Bukan orang yang selalu memberikan jawaban.
Melainkan seseorang yang tetap percaya kepada mahasiswanya, bahkan ketika mereka sedang kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.
Maka di akhir semester, sebelum nilai benar-benar kututup, ada hal kecil yang kulakukan.
Aku menulis untuk mereka.
Bukan tentang angka.
Bukan tentang indeks prestasi.
Melainkan tentang perjalanan yang telah kami lalui bersama.
Aku meninggalkan satu pesan.
Aku terdiam beberapa saat.
Membayangkan mereka membacanya.
Mungkin ada yang hanya sekilas melihat.
Mungkin ada yang tersenyum.
Mungkin ada yang sedang membutuhkan satu kalimat itu lebih dari yang pernah kuketahui.
Aku berdoa dengan lirih,
"Ya Allah...
Jika ada satu saja dari mereka yang kembali berani bermimpi karena merasa pernah dipercaya...
Jika ada satu saja yang memilih bangkit lagi setelah merasa gagal...
Jika ada satu saja yang suatu hari mengetuk pintu dunia dengan ilmu yang pernah kutitipkan...
Maka cukupkanlah itu menjadi amal yang terus mengalir hingga aku tiada."
Aku sadar.
Suatu hari mereka akan melupakan rumus-rumus, teori, materi yang pernah kutulis.
Mereka mungkin juga akan lupa siapa nama dosen yang pernah mengajar mereka di semester tiga atau lima.
Tidak apa-apa.
Karena tidak semua pendidik yang ditakdirkan untuk selalu dikenang.
Ada yang hanya dititipkan waktu yang singkat untuk "menyalakan" sesuatu.
Dan bila kelak mereka berdiri di tempat-tempat yang bahkan belum pernah kubayangkan... aku hanya ingin percaya, barangkali ada sedikit ilmu yang mereka bawa dari ruang kelas yang pernah kami bagi bersama.
Semoga dunia ramah pada langkah mereka.
"Terima kasih sudah bertahan dan berproses."
itulah yang sedang kami lakukan bersama.
Berproses.
Untuk menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada hari kemarin.

Komentar
Posting Komentar