"Jadilah seperti tumbuhan anggur, yang meski dipatahkan berkali-kali, ia semakin kuat dan kokoh."
6 Mei 2020, 7 tahun setelah Papa tiada. - Semoga Allah merahmatinya, mengampuni dosa-dosanya, dan mengangkat derajatnya, jadikanlah ia penghuni syurga-Mu ya Allah.
Aku masih ingat. Masa-masa indah nan singkat yang aku lalui bersama Papa. Singkat? yaaa... bagaimana tidak singkat, jika dalam satu tahun ada 365 hari, maka aku akan bertatap muka dengan Papa, memeluknya, mungkin hanya ada sekitar 30-35 hari saja. Kami terpisah oleh jarak, 168km jauhnya. Tapi tidak dengan hati ini, meski saat itu belum menggunakan video call, tak jadi masalah, rindu dan cintaku selalu dapat tersampaikan. Bercengkrama, layaknya pasien yang harus minum obat, Papa akan selalu menelepon satu per satu anaknya, tiga kali dalam sehari (terutama aku - yang paling manja dari 2 anak Papa lainnya.) Tapi kini, sunyi.. senyap.. rindu membuncah memecah keheningan.. sudah tujuh tahun Papa tiada.. *bahagia ya.. kalian.. yang masih punya Papa, berbaktilah.. selama kesempatan itu masih ada.
Hari ini.. Aku masih sama, masih merindukan Papa, sejak terakhir kali merasakan denyut nadinya. 7 tahun lalu.. pukul 21:38 WIB di kota Jakarta, perjuangan Papa telah usai. Kanker merenggut nyawanya pada malam itu, meninggalkan aku yang masih berharap semua itu mimpi..
(Mengetik tulisan ini benar-benar berat, jari gemetaran, jantung berdebar, dan dada terasa sempit.... Ah... dasar aku)
Malam itu, aku termenung. Bagaimana jadinya aku tanpa Papa? Aku bahkan belum lulus SMA waktu itu, bagaimana bisa secepat itu? Kenapa harus aku? Kenapa Papa?
Hari demi hari berlalu.. Aku tumbuh dengan didikan seorang Mama dan Kakak perempuanku, melanjutkan kehidupan tanpa sosok laki-laki yang melindungi kami. Hidup terasa semakin berat. Kami semua kebingungan, terutama urusan finansial. Tapi, kami kembalikan lagi pada sang pemilik rezeki - Allah. 1 tahun berlalu.. Atas izin Allah, aku mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Politeknik Caltex Riau, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dengan bantuan beasiswa dari Pemerintah, jelas saja tidak bisa mencukupi biaya hidupku dan keluarga, yang saat itu kami tidak punya pemasukan apa-apa. Berbekal bantuan relasi dari salah satu teman di organisasi Dakwah, Miqdad Rahimahullah - Semoga Allah merahmatinya, Sekarang ana udah bekerja dad, gak susah kayak waktu kuliah dulu, semoga kebaikan antum di masa lalu mendapat ganjaran pahala dari Allah. Akupun mendapat kesempatan mengajar les privat di salah satu lembaga bimbingan belajar (bimbel), tingkat calistung hingga SMA. Hari demi hari berlalu, masa-masa sulit kuliah sambil bekerja mulai aku alami. Setiap hari Senin hingga Sabtu aku mengajar les privat, sesampainya di rumah pukul 11 malam, dan harus masuk kuliah pukul 7 keesokan harinya. Tapi, semua berjalan dengan baik, walau sesekali ingin rasanya mengeluh pada-Nya, kupastikan asa-ku akan tetap hidup.
Semester demi semester perkuliahan aku lalui dengan baik dan mendapat predikat cumlaude, sebagian teman berpikir aku pelit, karena semakin hari semakin sulit ditemui, sangat jarang ikut belajar bersama - padahal, pulang kuliah aku akan segera bersiap-siap untuk bekerja, dan akan pulang ke rumah ketika teman-teman sudah tertidur larut dalam mimpinya.
Aku ingat, Papa bilang "semua orang boleh bermimpi, tapi jangan terlarut dalam mimpi tanpa aksi." Sejak Papa tiada, didikan Kakak terasa semakin 'keras', katanya, aku harus mengejar mimpi dengan hasil maksimal. Tidak ada waktu main-main, rasanya waktu itu seperti di penjara. Hmm... mohon maaf juga untuk orang-orang sekitarku, yang mungkin mengenalku setelah Papa tiada, hingga acap kali tidak nyaman dengan karakter Koleris-Melankolis ini. Tapi percayalah, aku hanya seorang perempuan yang sedang berjuang mengejar mimpi, untuk membahagiakan orang-orang di sekitarku. Buruknya, aku memang tumbuh menjadi perempuan yang penuh kekhawatiran akan kegagalan mencapai mimpi. Aku takut terlambat.. saat usia Mama, dan mertuaku sudah memasuki senja. Aku takut tidak sempat membahagiakan ketiganya. Aku takut kehilangan kesempatan, seperti saat aku belum bisa memberikan apa-apa untuk Papa. Mimpi dan ambisi ini bukan terlahir instan, melainkan melalui proses yang panjang, rumit, dan pahit. Namun, kupastikan asa-ku akan tetap hidup.
7 tahun sudah Papa tiada, air mata ini tak kunjung mengering. Dada ini selalu terasa sempit setiap kali mengingatnya. Sosok laki-laki penyayang keluarga itu telah tiada, tapi tidak dengan kenangannya. Di relung hati ini, nama dan kenangan itu akan selalu ada, tak akan luntur oleh dimensi dan waktu.. Tugas baktiku belum usai, Papa masih membutuhkan do'aku, dan bakti ini akan ku lanjutkan pada Papa mertuaku, - Semoga Allah memberiku kesempatan lebih lama untuk berbakti pada Papa mertuaku, mengurusi beliau hingga akhir hayatnya.
Tertanda,
Anak perempuan Papa,
di sudut kamar,
menatap malaikat kecil tampan yang tak pernah Papa temui.
6 Mei 2020.
Komentar
Posting Komentar