Ada masa ketika aku tahu persis ke mana hendak melangkah. Aku punya banyak mimpi, menyimpan begitu banyak rencana, dan percaya bahwa selama aku mau berusaha, selalu ada jalan untuk sampai ke sana. Dunia terasa seperti ruang luas yang penuh kemungkinan. Ada banyak hal yang ingin kucoba, banyak tempat yang ingin kutuju, dan banyak versi diriku yang ingin kutemui.
Lalu, entah sejak kapan, semuanya mulai terasa berbeda.
Mimpi-mimpi itu masih ada, tersimpan di suatu tempat dalam kepalaku. Hanya saja, aku tak lagi tahu harus memulainya dari mana. Beberapa masih ingin kuperjuangkan, beberapa mulai kuragukan, dan beberapa lainnya perlahan terasa asing. Aku seperti sedang mengurai benang-benang kusut dari mimpi yang pernah kurajut sendiri, mencoba memahami mana yang benar-benar kuinginkan dan mana yang sekadar kuambil karena dunia mengatakan bahwa itulah yang seharusnya kuinginkan.
Di usia 29 tahun, aku sedang berada di antara keduanya: mengurai mimpi-mimpi lama dan mencoba merajut mimpi yang baru. Namun, kali ini, tanganku tidak lagi selincah dulu. Ada keraguan yang menyelinap di antara simpul-simpulnya. Ada lelah yang membuatku ingin berhenti sejenak. Ada bagian dari diriku yang bertanya, apakah aku masih menginginkan semua ini, atau aku hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa aku sudah berubah?
Aku tidak sedang kehilangan seluruh mimpiku. Barangkali, aku hanya kehilangan percikan yang dahulu membuatku bersemangat mengejarnya.
Losing sparks.
Begitu kata orang-orang sekarang menyebutnya.
Bukan kehilangan arah secara tiba-tiba, melainkan perlahan-lahan kehilangan alasan untuk berlari. Bukan tidak lagi memiliki sesuatu yang ingin dicapai, melainkan tidak tahu mengapa sesuatu itu harus dicapai. Aku masih bisa menjalani hari, menyelesaikan pekerjaan, memenuhi tanggung jawab, dan hadir untuk orang-orang yang membutuhkan kehadiranku. Dari luar, mungkin semuanya tampak baik-baik saja. Hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, ada sesuatu yang terasa tertinggal di dalam diriku.
Sesuatu yang dahulu membuatku mudah bersemangat ketika menemukan ide baru. Sesuatu yang membuatku rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis, membaca, merancang sesuatu, atau sekadar membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah kucoba. Sesuatu yang membuat hal-hal sederhana terasa menarik dan hari-hari biasa terasa menyimpan banyak kemungkinan.
Aku merindukan diriku yang itu.
Bukan karena ia selalu bahagia, selalu produktif, atau selalu tahu apa yang harus dilakukan. Aku merindukannya karena ia memiliki "api". Ia punya rasa ingin tahu, keberanian untuk mencoba, dan kegembiraan kecil ketika menemukan sesuatu yang membuat hatinya hidup.
Sekarang, aku lebih sering merasa lelah sebelum memulai.
Bahkan ketika ada waktu luang, pikiranku seperti tidak benar-benar beristirahat. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan, begitu banyak peran yang harus dijalankan, begitu banyak suara yang meminta perhatian. Dunia terasa semakin berisik, sementara aku semakin sulit mendengar suaraku sendiri.
Barangkali, aku terlalu lama berusaha menjadi seseorang yang bisa diandalkan sampai lupa bagaimana rasanya menjadi diriku sendiri.
Aku lelah dengan hiruk pikuk dunia yang seolah tidak pernah selesai.
Dunia yang terus bergerak, terus membandingkan, terus menawarkan ukuran-ukuran baru tentang keberhasilan. Ada target yang harus dicapai, pencapaian yang harus dirayakan, kemampuan yang harus terus ditingkatkan, dan kehidupan orang lain yang tanpa sadar menjadi cermin untuk menilai kehidupan sendiri.
Kita hidup di masa ketika semua orang tampak sedang menuju suatu tempat. Ada yang sedang membangun karier, merintis usaha, melanjutkan pendidikan, menulis buku, bepergian ke berbagai negara, atau menemukan versi terbaik dirinya. Setiap hari, selalu ada sesuatu yang dapat membuat kita merasa tertinggal.
Aku tahu bahwa setiap orang memiliki perjalanan masing-masing. Aku tahu bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu menggambarkan keseluruhan cerita. Aku tahu bahwa membandingkan diri dengan orang lain bukan cara yang adil untuk menilai hidup sendiri.
Tetapi mengetahui sesuatu tidak selalu membuat kita kebal terhadapnya.
Kadang-kadang, aku tetap bertanya-tanya apakah aku sudah melakukan cukup banyak. Apakah aku sudah berada di tempat yang semestinya? Apakah ada sesuatu yang terlewat ketika aku terlalu sibuk menjalani rutinitas? Apakah aku sedang bertumbuh, atau hanya bergerak dari satu kewajiban ke kewajiban berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa selalu membawa jawaban.
Dan semakin keras aku berusaha mencari jawabannya, semakin riuh pula pikiranku.
Hingga pada suatu titik, aku mulai menyadari bahwa mungkin aku tidak membutuhkan lebih banyak suara. Aku membutuhkan ruang yang cukup sunyi untuk mendengarkan diriku sendiri.
Aku ingin berhenti sebentar dari keharusan untuk selalu mengetahui langkah berikutnya. Aku ingin membebaskan diri dari tuntutan untuk selalu memiliki rencana besar. Aku ingin duduk bersama kebingunganku tanpa buru-buru mengubahnya menjadi sesuatu yang harus segera diselesaikan.
Sebab, tidak semua kebingungan harus segera menemukan jawaban.
Ada kalanya kita hanya perlu mengakui bahwa kita sedang tidak tahu.
Tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Tidak tahu apakah jalan yang sedang ditempuh masih terasa benar. Tidak tahu apakah kita ingin melanjutkan sesuatu yang sudah lama dibangun atau justru memulai sesuatu yang sama sekali berbeda.
Dan mungkin, mengakui ketidaktahuan itu adalah bentuk kejujuran pertama yang sudah lama kita hindari.
Usia 29 tahun terasa seperti sebuah persimpangan yang aneh.
Aku tidak lagi merasa sepenuhnya muda dalam pengertian bahwa semua hal bisa dicoba tanpa banyak pertimbangan. Ada tanggung jawab, ada orang-orang yang ikut berada dalam kehidupanku, ada keputusan-keputusan yang dampaknya tidak hanya berhenti pada diriku sendiri.
Namun, aku juga belum merasa selesai. Masih ada begitu banyak hal yang ingin kupelajari, begitu banyak kemungkinan yang ingin kujajaki, dan begitu banyak bagian dari diriku yang belum benar-benar kukenal.
Aku berada di tengah-tengah.
Tidak sepenuhnya ingin kembali menjadi diriku yang dulu, tetapi juga belum tahu bagaimana menjadi diriku yang berikutnya.
Mungkin inilah bagian yang paling melelahkan: menyadari bahwa diriku telah berubah, tetapi belum sepenuhnya memahami perubahan itu.
Ada mimpi-mimpi lama yang tidak lagi terasa dekat. Ada keinginan baru yang belum cukup jelas untuk diberi nama. Ada bagian dari diriku yang ingin berlari lebih jauh, sementara bagian lainnya hanya ingin berhenti dan menarik napas panjang.
Aku terkadang merasa bersalah karena tidak sebersemangat dahulu. Seolah-olah kehilangan percikan adalah sebuah kegagalan. Seolah-olah aku harus terus menjadi perempuan yang penuh ide, penuh energi, dan selalu tahu apa yang ingin dikerjakannya.
Padahal, mungkin aku hanya sedang lelah.
Mungkin ada terlalu banyak hal yang kupikul tanpa sempat kutanyakan apakah semuanya memang harus kubawa.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk merawat hal-hal yang tumbuh di luar diriku sampai lupa memeriksa keadaan tanah di dalam diriku sendiri.
Dan mungkin, tidak semua yang tampak seperti kehilangan sebenarnya adalah kehilangan.
Ada hal-hal yang memang perlu berakhir agar kita bisa melihat apa yang masih layak dipertahankan. Ada keinginan yang perlu dilepaskan karena ia tumbuh dari ekspektasi orang lain. Ada ambisi yang perlu ditinjau kembali karena kita sudah menjadi seseorang yang berbeda dari ketika pertama kali merumuskannya.
Aku mulai belajar bahwa berubah pikiran bukan berarti mengkhianati diri sendiri. Mengubah arah bukan berarti perjalanan sebelumnya sia-sia. Dan beristirahat bukan berarti aku menyerah.
Kadang-kadang, kita perlu berhenti menjadi seseorang yang selama ini kita kenal agar dapat memberi ruang bagi seseorang yang sedang tumbuh di dalam diri kita.
Aku sedang mencari titik balik.
Bukan titik balik yang dramatis, dengan keputusan besar yang mengubah seluruh kehidupan dalam semalam. Bukan pula momen ketika aku tiba-tiba menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalaku.
Aku mulai merasa bahwa titik balik mungkin tidak selalu datang sebagai sebuah peristiwa besar.
Bisa jadi, ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang nyaris tidak terlihat.
Ketika aku memilih membaca beberapa halaman buku karena memang ingin tahu, bukan karena ingin menyelesaikan target membaca. Ketika aku kembali menulis beberapa paragraf tanpa memikirkan apakah tulisan itu cukup bagus untuk dibagikan. Ketika aku memberikan waktu untuk sebuah ide tanpa memaksanya menjadi proyek yang produktif. Ketika aku berani mengatakan bahwa hari ini aku lelah, dan aku tidak harus menebus kelelahan itu dengan bekerja lebih keras esok hari.
Mungkin titik balik itu dimulai ketika aku berhenti memaksa diriku untuk segera kembali seperti dahulu.
Sebab, aku tidak yakin bahwa yang kubutuhkan adalah kembali menjadi diriku yang lama.
Aku tidak ingin sekadar menghidupkan kembali ambisi yang pernah kumiliki, mengulang rutinitas yang dahulu membuatku bersemangat, atau mengejar mimpi-mimpi yang pernah kubanggakan. Aku ingin memahami apakah semua itu masih benar-benar milikku.
Aku ingin menemukan kembali percikan itu, tetapi kali ini dengan pemahaman yang lebih baik tentang diriku sendiri.
Aku ingin tahu apa yang membuatku merasa hidup, bukan hanya apa yang membuatku merasa berhasil.
Aku ingin melakukan sesuatu karena aku menyukainya, bukan semata-mata karena aku pandai melakukannya.
Aku ingin punya keberanian untuk memulai sesuatu yang baru, tetapi juga keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang tidak lagi sejalan.
Dan yang paling penting, aku ingin kembali merasa hadir dalam kehidupanku sendiri.
Bukan sekadar menjalankan hari, tetapi benar-benar mengalaminya.
Bukan sekadar menyelesaikan daftar pekerjaan (to do list nama kerennya), tetapi sesekali berhenti untuk bertanya apakah aku masih menikmati apa yang sedang kukerjakan.
Bukan sekadar menjadi seseorang yang dibutuhkan banyak orang, tetapi tetap mengenali siapa diriku ketika tidak ada siapa pun yang sedang membutuhkan sesuatu dariku.
Aku ingin menemukan ruang untuk menjadi diriku sendiri, tanpa harus selalu menjelaskan apa manfaatnya, apa hasilnya, dan ke mana semua ini akan membawaku.
Barangkali, percikan itu tidak benar-benar hilang. Barangkali ia hanya tertutup oleh terlalu banyak hal yang kupikir harus kulakukan.
Ada bagian dari diriku yang terasa seperti terkubur di bawah tumpukan tanggung jawab, ekspektasi, rutinitas, dan berbagai versi diri yang selama ini berusaha kuhidupi.
Aku tidak tahu persis kapan ia mulai terkubur. Mungkin bukan dalam satu peristiwa, melainkan melalui banyak keputusan kecil untuk menunda keinginan sendiri. Nanti saja membaca buku itu. Nanti saja menulis. Nanti saja mencoba sesuatu yang baru. Nanti saja memikirkan apa yang sebenarnya kuinginkan, setelah semua pekerjaan selesai.
Masalahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.
Selalu ada hal lain yang menunggu. Selalu ada tanggung jawab baru. Selalu ada alasan yang terdengar masuk akal untuk kembali menunda diri sendiri.
Sampai suatu hari, aku menyadari bahwa aku telah begitu terbiasa menjalani kehidupan dengan cara tertentu, tetapi mulai kesulitan mengingat apa yang dahulu membuatku memilihnya.
Maka sekarang, aku sedang tertatih menghidupkan kembali bagian diriku yang lama tertinggal.
Aku belum tahu apakah aku harus menggali kembali semua yang pernah terkubur atau justru membiarkannya menjadi bagian dari masa lalu. Aku juga belum tahu seperti apa sosok yang akan kutemukan setelah perjalanan ini selesai. Pun jika memang ada sesuatu yang bisa disebut selesai.
Yang kutahu, aku ingin mulai mencari.
Pelan-pelan, tanpa harus mengumumkan apa pun kepada dunia.
Aku ingin kembali mengenali hal-hal yang membuatku penasaran. Membuka kembali buku-buku yang belum selesai kubaca. Menulis sesuatu yang mungkin tidak akan pernah diterbitkan. Mencatat ide-ide yang belum tentu menjadi kenyataan. Memberikan kesempatan kepada diriku untuk menyukai sesuatu tanpa harus segera menguasainya.
Aku ingin mengizinkan diriku menjadi pemula lagi.
Sebab, ada kebebasan yang hilang ketika setiap hal harus menghasilkan pencapaian. Ada kegembiraan yang memudar ketika setiap hobi harus menjadi produktif. Ada rasa ingin tahu yang perlahan mati ketika setiap pertanyaan harus segera memiliki jawaban.
Aku ingin mengembalikan ruang bagi hal-hal yang tidak harus menjadi apa-apa.
Hal-hal yang cukup dilakukan karena membuatku merasa hidup.
Mungkin dari sanalah aku akan mulai menemukan diriku kembali.
Bukan dengan memaksanya keluar dari tempat persembunyiannya, melainkan dengan menciptakan ruang yang cukup aman baginya untuk muncul.
Pada akhirnya, aku mulai memahami bahwa mengurai dan merajut mimpi bukanlah pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu malam.
Ada benang-benang yang perlu dilepaskan. Ada simpul yang perlu diurai dengan sabar. Ada pola yang perlu diubah. Ada pula bagian yang mungkin harus dibiarkan tetap seperti semula karena ternyata masih memiliki makna.
Aku tidak harus mengetahui seluruh bentuk rajutan itu sejak awal.
Aku hanya perlu memutuskan benang mana yang ingin kuambil terlebih dahulu.
Di usia 29 tahun ini, aku sedang belajar menerima bahwa hidup tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada masa ketika kita berlari, ada masa ketika kita berjalan, dan ada masa ketika kita perlu duduk sejenak untuk memahami mengapa kita ingin pergi ke suatu tempat.
Aku sedang berada di masa yang terakhir itu.
Masih ada kebingungan. Masih ada hari-hari ketika aku merasa kehilangan arah. Masih ada saat-saat ketika dunia terasa terlalu berisik dan aku ingin menjauh dari semuanya. Aku belum sepenuhnya menemukan kembali percikan yang kucari.
Namun, setidaknya sekarang aku tahu bahwa aku sedang mencarinya.
Dan mungkin, untuk sementara waktu, itu sudah cukup.
Aku tidak ingin terburu-buru mengubah fase ini menjadi kisah kebangkitan yang indah. Aku tidak ingin berpura-pura bahwa semua kebingungan ini pasti akan segera menghasilkan jawaban. Bisa jadi, perjalanan ini masih panjang. Bisa jadi, aku akan kembali kehilangan arah setelah merasa menemukannya.
Tidak apa-apa.
Aku ingin memberi kesempatan kepada diriku untuk menjalani proses ini dengan lebih jujur. Tanpa tuntutan untuk segera pulih, segera produktif, atau segera menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Aku ingin percaya bahwa diriku tidak berkurang nilainya hanya karena sedang tidak tahu ke mana harus melangkah.
Bahwa aku tetap berharga meski sedang tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Bahwa aku boleh berubah, boleh lelah, boleh mempertanyakan kembali pilihan-pilihanku, dan boleh memulai dari awal meskipun usiaku tidak lagi sama dengan ketika pertama kali merancang mimpi-mimpi itu.
Sebab, barangkali menjadi dewasa bukan tentang semakin mahir menjawab semua pertanyaan.
Barangkali, menjadi dewasa juga berarti berani duduk bersama pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, tanpa kehilangan kasih kepada diri sendiri.
Dan jika suatu hari nanti aku berhasil menemukan kembali percikan itu, aku berharap aku tidak hanya menemukannya dalam bentuk ambisi yang menyala-nyala.
Aku berharap menemukannya dalam sesuatu yang lebih tenang.
Dalam rasa ingin tahu yang kembali tumbuh. Dalam keberanian untuk mencoba. Dalam kegembiraan sederhana ketika mengerjakan sesuatu yang kusukai. Dalam kemampuan untuk menikmati perjalanan tanpa terus-menerus mencemaskan tujuan akhir.
Aku ingin kembali memiliki mimpi, tetapi tidak lagi menjadikannya satu-satunya alasan untuk menghargai diriku sendiri.
Aku ingin kembali berlari, tetapi kali ini aku tahu bahwa aku boleh berjalan ketika lelah.
Aku ingin kembali menyalakan api, tetapi aku juga ingin belajar merawatnya agar tidak habis membakar diriku sendiri.
Untuk sekarang, biarlah aku mengurai mimpi-mimpi lama sambil perlahan merajut yang baru. Biarlah aku mencari arah, sekalipun langkahku masih tertatih. Biarlah aku mengenali kembali diriku, bahkan jika sosok yang kutemukan nanti tidak sepenuhnya sama dengan sosok yang kuingat dahulu.
Aku tidak harus kembali menjadi diriku yang lama.
Aku hanya ingin kembali menjadi seseorang yang terasa seperti diriku sendiri.
Dan mungkin, di tengah semua kebisingan dunia, itulah titik balik yang selama ini kucari: bukan menemukan jalan yang paling benar, melainkan menemukan keberanian untuk mendengarkan suara kecil di dalam diri yang selama ini nyaris tidak terdengar.
Suara yang tidak menyuruhku berlari lebih cepat.
Tidak memintaku membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Hanya berbisik pelan, mengingatkanku bahwa aku masih di sini.
Bahwa di balik segala peran yang kujalani, segala tanggung jawab yang kupikul, dan segala ekspektasi yang berusaha kupenuhi, masih ada diriku yang menunggu untuk kutemui kembali.
Kali ini, aku ingin pulang kepadanya.
Bukan sebagai seseorang yang sudah memiliki semua jawaban, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya bersedia mendengarkan.
Dan dari sana, jika aku sudah siap, aku akan mulai merajut mimpi lagi.
Pelan-pelan.
Dengan benang yang kupilih sendiri.
Dengan arah yang mungkin belum sepenuhnya kupahami.
Dengan harapan bahwa kali ini, di antara semua hal yang ingin kucapai, aku tidak lagi kehilangan diriku sendiri.

Komentar
Posting Komentar