Anakku tidak tumbuh di jalan yang lurus. Langkahnya sering melenceng, berbelok tiba-tiba, lalu berhenti di tengah jalan seolah lupa ke mana ia hendak pergi. Dunia baginya terlalu ramai, terlalu cepat, terlalu penuh suara yang saling berebut masuk ke kepalanya. Aku berjalan di belakangnya. Kadang di samping. Kadang membiarkannya berjalan sendiri. Aku ibu yang belajar sambil berjalan, belajar menahan napas, belajar tidak marah, belajar mengulang kata yang sama berkali-kali tanpa kehilangan cinta di dalamnya. Ada hari-hari ketika kami sama-sama berhenti. Di ruang belajar yang sunyi, di kertas yang tak kunjung selesai, di mata kecil yang tiba-tiba basah tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Tangannya mengepal, bahunya turun, seolah seluruh dunia terlalu berat untuk tubuhnya yang masih kanak-kanak. “Lelah” katanya. Dan aku tahu, ia benar-benar lelah. Aku pun lelah. Lelah menjelaskan pada dunia bahwa anakku bukan kurang, hanya berbeda. Lelah menahan luka dari tatapan ya...
Ayah bukan lelaki yang banyak bicara. Ia tidak pernah menasihati dengan panjang lebar atau menggurui seperti tokoh-tokoh bijak dalam buku. Kata-katanya pendek, bahkan seringkali tak masuk akal bagiku saat kecil. Tapi setiap kalimat yang keluar dari bibirnya seolah menyimpan petuah yang tak bisa kuabaikan. Salah satunya dan mungkin yang paling sering ia ucapkan adalah, “Jadilah seperti pohon anggur. Ia harus dipatahkan berkali-kali agar bisa tumbuh, bertambah subur.. Tetap kuat. Tetap berdiri.” Aku tidak tahu apa maksudnya waktu itu. Aku hanya tahu ia mengatakannya setiap kali aku menangis karena sesuatu yang remeh: nilai jelek, lutut lecet, atau burung kesayanganku mati. Ia akan berjongkok di sampingku, tangannya yang hangat menyentuh pundakku, dan dengan suara lembut ia mengatakan kalimat itu lagi, seolah menanamnya dalam diriku dengan sabar, berulang-ulang, seperti orang menanam benih di tanah yang keras. Ayah mencintai tanah. Setiap sore, ia pergi ke kebun kecil di belaka...