Langsung ke konten utama

Postingan

Piala Pertama Anakku..

Anakku tidak tumbuh di jalan yang lurus. Langkahnya sering melenceng, berbelok tiba-tiba, lalu berhenti di tengah jalan seolah lupa ke mana ia hendak pergi.  Dunia baginya terlalu ramai, terlalu cepat, terlalu penuh suara yang saling berebut masuk ke kepalanya. Aku berjalan di belakangnya. Kadang di samping. Kadang membiarkannya berjalan sendiri. Aku ibu yang belajar sambil berjalan, belajar menahan napas, belajar tidak marah, belajar mengulang kata yang sama berkali-kali tanpa kehilangan cinta di dalamnya. Ada hari-hari ketika kami sama-sama berhenti. Di ruang belajar yang sunyi, di kertas yang tak kunjung selesai, di mata kecil yang tiba-tiba basah tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Tangannya mengepal, bahunya turun, seolah seluruh dunia terlalu berat untuk tubuhnya yang masih kanak-kanak. “Lelah” katanya. Dan aku tahu, ia benar-benar lelah. Aku pun lelah. Lelah  menjelaskan pada dunia bahwa anakku bukan kurang, hanya berbeda. Lelah  menahan luka dari tatapan ya...
Postingan terbaru

Akar Pohon Itu Menyimpan Namanya

Ayah bukan lelaki yang banyak bicara. Ia tidak pernah menasihati dengan panjang lebar atau menggurui seperti tokoh-tokoh bijak dalam buku. Kata-katanya pendek, bahkan seringkali tak masuk akal bagiku saat kecil. Tapi setiap kalimat yang keluar dari bibirnya seolah menyimpan petuah yang tak bisa kuabaikan.  Salah satunya dan mungkin yang paling sering ia ucapkan adalah, “Jadilah seperti pohon anggur. Ia harus dipatahkan berkali-kali agar bisa tumbuh, bertambah  subur.. Tetap kuat. Tetap berdiri.” Aku tidak tahu apa maksudnya waktu itu. Aku hanya tahu ia mengatakannya setiap kali aku menangis karena sesuatu yang remeh: nilai jelek, lutut lecet, atau burung kesayanganku mati. Ia akan berjongkok di sampingku, tangannya yang hangat menyentuh pundakku, dan dengan suara lembut ia mengatakan kalimat itu lagi, seolah menanamnya dalam diriku dengan sabar, berulang-ulang, seperti orang menanam benih di tanah yang keras. Ayah mencintai tanah. Setiap sore, ia pergi ke kebun kecil di belaka...

Rindu Ini Tak Pernah Selesai

"Ayah Memang Jauh, Tapi...." Masa kecilku bukanlah masa kecil yang biasa. Aku tidak tumbuh bersama ayah di rumah seperti anak-anak lain. Ayah bekerja di kota yang jauh, di tempat yang menurutnya tidak cukup baik untuk pendidikan anak. Aku hanya bisa berbincang dengan ayah melalui telepon atau MMS - aplikasi pesan yang dapat mengirimkan gambar, mendengarnya dari cerita ibu yang menceritakan tentang kesehariannya. Kami, ibu dan aku, tinggal di rumah kecil di sebuah daerah, yang terpisah sejauh 254km dengan tempat ayah berada, tempat yang penuh dengan kerja keras dan usaha, tetapi menurutnya tidak cocok untuk membesarkan anak. Aku ingat betul, setiap kali ada libur sekolah atau saat aku merasa sangat rindu padanya, aku akan menunggu telepon dari ayah. Itu adalah saat-saat yang paling aku nantikan. Ayah akan bercerita tentang pekerjaannya yang menakjubkan, dan tidak pernah lupa mengingatkanku untuk belajar dengan rajin. "Ayah ingin kamu jadi orang yang sukses, yang tahu baga...

MCU Gratis di Hari Ulang Tahun, Kok Bisa? Ini Pengalamanku!

Ulang tahun biasanya identik dengan kejutan, kado, dan perayaan kecil bersama keluarga atau teman. Tapi siapa sangka, tahun ini saya mendapat hadiah yang belum pernah didapat sebelumnya: Medical Check-Up (MCU) gratis dari pemerintah! Banyak dari kita mungkin jarang melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Entah karena kesibukan, merasa masih sehat, atau khawatir dengan biayanya. Padahal, Medical Check-Up (MCU) sangat penting untuk mendeteksi dini kondisi kesehatan sebelum menjadi masalah serius. Nah, menariknya, kali ini pemerintah melalui puskesmas maupun rumah sakit pemerintah dalam rangka kampanye kesehatan nasional memfasilitasi masyarakat untuk MCU gratis, alias nol biaya. Beritanya dapat diakses di sini .**  **Untuk memastikan apakah program ini tersedia di daerahmu,  coba cek ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.  Biasanya, informasi ini juga diumumkan melalui media sosial dinas kesehatan setempat. Berhubung saya berulang tahun di bulan Januari...

Nada, Buah Hatiku 🌸

Nada, sebuah nama yang mengandung makna 'kebaikan' dan 'keberkahan' dalam bahasa Arab, menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga kecil kami. Harapan baba dan ummi tersemat dalam doa agar Allah senantiasa melimpahkan kebaikan-Nya dalam setiap langkahmu, nak. Lima bulan yang lalu, ummi melahirkanmu. Peristiwa bersejarah itu membawa kembali keajaiban dalam hidup ummi. Dengan izin Allah, kamu, si kecil yang kami sebut Nada, lahir dalam keadaan sehat, membawa kebaikan dan keberkahan yang melimpah bagi keluarga ini. Nada, terimakasih sudah memilih ummi sebagai ibumu. Mungkin nanti, ketika kamu tumbuh dewasa, kamu akan tahu bahwa ummi, seorang ibu yang masih terus belajar, penuh cela, dan memiliki kekurangan, senantiasa membersamaimu. Besar harapan ummi, Nada tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik, anak perempuan yang bermimpi besar, hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan. Setiap langkah hidupmu menjadi jejak kebaikan dan harapan yang memancar, menandai perjalanan keluarg...

I'm Just a Mom 🍓

Hai.... Jumpa lagi! Setelah beberapa bulan lama nya tidak menulis, lumayan bingung rasanya mau menuliskan apa di tengah-tengah kesibukan aktivitas rumah tangga, perkuliahan, riset, dan lain sebagainya.  Setelah beberapa bulan pasca melahirkan, saya kembali merasakan drama, naik-turun, dan serunya jadi Ibu yang punya bayi. Bayi yang lahir ke dunia ini pada tanggal 15 Agustus 2023, atas izin Allah dimudahkan segala prosesnya. Dan tepat 1 Minggu setelahnya, bayi dengan tubuh mungil itu sudah harus saya titipkan ke Ibu saya di rumah, 5-8 jam lamanya (hampir) setiap hari. Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya 'meninggalkan' anak. Tahun 2019, saat usia anak pertama saya 7 bulan, saya diterima bekerja di salah satu kampus. Hanya saja, kali ini terasa lebih awal. Jadi, kalau saat ini orang-orang bertanya apakah saya sedih meninggalkan bayi di rumah, saya bingung harus menjawab apa. Apa ekspektasi orang atas jawaban yang akan saya berikan? Dari 2 pengalaman 'meninggalkan' anak...

ANC Terpadu di Jogja pakai KTP Luar Jogja, Emang Bisa Ya? 🏥

Hari ini, 21 Maret 2023 saya baru saja selesai menjalani ANC Terpadu. Salah satu program pemerintah yang diwajibkan untuk pemeriksaan kesehatan fisik dan psikis ibu hamil (more info bisa dibaca disini: https://dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detail/anc-terpadu-ibu-hamil-10t-anc-terpadu-berkualitas-hamil-sehat-melahirkan-selamat-bayi-sehat ). Dan luar biasa, selesai hanya dalam beberapa jam saja! Oh ya, informasi yang saya terima dari nakes, untuk di Jogja seluruh ibu hamil yang akan menjalani proses persalinan di fasilitas publik (klinik kebidanan, puskesmas, dan rumah sakit) wajib mendapatkan ANC Terpadu. Singkat cerita, saya datang ke Puskesmas Depok II (Condongcatur, Sleman) yang berjarak sekitar 3km dari rumah, pukul 08.30 WIB. *agar informasi ini lebih mudah diakses bagi pembaca, saya sajikan dalam poin saja, ya.. kurang lebih begini alurnya. Di pintu masuk, saya mengambil nomor antrian dan menunggu panggilan. 15 menit menunggu, saya diarahkan ke bagian Pendaftaran dan Rekam Medis ...